Rabu, 23 November 2011

Kebenaran Dan Keunggulan Al-Qur’an

Bukti eksternal kebenaran dan superioritas Al-Qur’an ada empat macam. Pertama, adalah yang berkaitan dengan hal-hal yang perlu diperbaharui; kedua, yang berkaitan dengan hal-hal yang harus disempurnakan; ketiga, yang berkaitan dengan hal-hal alamiah dan keempat, yang berkaitan dengan hal-hal yang tersembunyi. Adapun bukti internal kebenaran dan keunggulan Al-Qur’an berkaitan dengan hal-hal alamiah.

Hal-hal yang harus diperbaharui adalah aqidah-aqidah salah yang dianut manusia sebagai pengganti aqidah haqiqi yang telah melenceng dengan berjalannya waktu dimana penyelewengan itu telah meluas sedemikian rupa sehingga Tuhan menganggap perlu memperbaharuinya.



Hal-hal yang perlu disempurnakan mencakup ajaran-ajaran yang dianggap berkekurangan dalam semua Kitab-kitab yang diwahyukan terdahulu dimana kekurangan dan ketidak-lengkapannya itu menjadi jelas jika dibandingkan dengan ajaran yang sempurna sehingga memerlukan adanya suatu Kitab baru yang diwahyukan untuk memperbaikinya.
Hal-hal yang bersifat alamiah terdiri lagi dari dua macam. Pertama, yang bersifat eksternal yaitu segala hal yang diciptakan Allah s.w.t. tanpa adanya campur tangan manusia dimana Dia telah memboboti setiap zarah benda dimaksud dengan keagungan, keunikan dan kebesaran sistem penciptaan yang menakjubkan pikiran. Kedua, yang bersifat internal seperti keindahan bentuk komposisi serta isi dari Kitab yang diwahyukan yang tidak mungkin dipadani oleh kemampuan akal manusia. Karena sifat tanpa tanding dan keunikan tersebut maka manusia akan merasa digiring kepada Wujud yang Maha Esa dan Maha Kuasa tersebut sehingga Kitab itu menjadi cermin yang menunjukkan refleksi Tuhan.
Adapun yang dimaksud dengan hal-hal tersembunyi adalah segala hal yang lahir keluar dari lidah seorang manusia dimana diyakini bahwa sebenarnya pernyataan seperti itu berada di luar kemampuan dirinya. Kalau kita membandingkan perkataan-perkataan itu dengan keadaan manusia bersangkutan, sebenarnya jelas bahwa hal itu di luar kemampuan yang bersangkutan dan tidak mungkin dapat diperoleh melalui perenungan atau pengamatan sendiri atau pun berasal dari orang lain yang dikenalnya. Pada orang-orang lain hal demikian mungkin tidak menjadi suatu hal yang mustahil karena misalnya memang telah memiliki pengetahuan dan dasar pendidikan yang cukup. Dengan demikian hal seperti itu menjadi bersifat relatif yaitu pada seseorang tertentu hal demikian dianggap sebagai suatu yang tersembunyi tetapi pada orang lain tidaklah demikian.
(Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 143-145, London, 1984).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar